Sunday, November 17, 2024

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID



OLEH:

FARIDAH HASANAH RAHAYU

CGP ANGKATAN 11 KOTA PROBOLINGGO


Fasilitator: Bapak Mawan Suliyadi
Pengajar Praktik: Ibu Herlina Agus Verawati


A. Pemikiran Reflektif Terkait Pengalaman Belajar

1. Pengalaman/Materi Pembelajaran yang Baru Saja Diperoleh

Banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang saya peroleh dari modul 3.3. Saya baru menyadari pentingnya peran guru dalam menciptakan program yang melibatkan murid, baik dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Murid memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai pengawas dan pendamping. Ketika murid mengambil peran aktif dalam pembelajaran mereka, hubungan antara guru dan murid berubah menjadi kemitraan. Ketika murid memimpin proses pembelajaran mereka (agency), mereka memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam proses pembelajaran mereka. Tugas guru adalah menciptakan lingkungan yang mendorong tumbuhnya budaya Kepemimpinan Murid (student agency) di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam pemikiran, niat, pelaksanaan, dan refleksi tindakan mereka.

Intisari Modul 3.3

Kepemimpinan murid (Student Agency) dan  kaitannya dengan Profil Pelajar Pancasila

Kepemimpinan murid, yang juga dikenal sebagai Student Agency, merujuk pada kemampuan mereka untuk mengarahkan pembelajaran mereka sendiri. Ini melibatkan kemampuan mereka dalam membuat pilihan, mengemukakan pendapat, berpartisipasi aktif dalam komunitas belajar, dan berkontribusi dalam proses belajar. Kepemimpinan murid berkaitan dengan pengembangan identitas dan rasa memiliki diri. Ketika mereka mengembangkan agency, mereka mengandalkan motivasi, harapan, efikasi diri, dan keyakinan bahwa kemampuan mereka dapat berkembang. Hal ini membantu mereka mencapai kesejahteraan fisik dan mental. Dalam konteks ini, hubungan antara guru dan murid berubah menjadi lebih seperti kemitraan, di mana guru mendukung murid dalam pengembangan kepemimpinan mereka. Upaya untuk mengembangkan kepemimpinan murid ini diharapkan akan membantu mereka mewujudkan profil pelajar Pancasila dengan baik.

Suara (voice), Pilihan (choice) dan kepemilikan murid (ownership) dalam konsep Kepemimpinan murid 

Ketika murid menjadi pemimpin dalam pembelajaran mereka (agency), mereka memperoleh suara, pilihan, dan kepemilikan dalam proses pembelajaran mereka. Ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan pembelajaran mereka sendiri. Dalam peran ini, guru bertindak sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan yang mendorong murid untuk mengambil inisiatif, membuat keputusan, dan merasa memiliki proses belajar mereka. Tugas guru adalah menciptakan budaya di mana murid merasa memiliki suara dalam apa yang mereka pelajari, memiliki pilihan dalam bagaimana mereka belajar, dan merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap pembelajaran mereka. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan efektif, karena melibatkan partisipasi aktif murid dalam mengelola dan mendalami pembelajaran mereka sendiri.

Suara, Pilihan dan Kepemilikan Murid

Suara (voice) mencakup pandangan, gagasan, dan perhatian yang dinyatakan oleh murid melalui partisipasi aktif mereka dalam berbagai konteks, seperti kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan. Suara ini berdampak pada proses pengambilan keputusan dan memiliki pengaruh kolektif pada pengalaman murid.

Pilihan (choice) adalah tentang memberikan kesempatan kepada murid untuk memilih dan mengambil langkah-langkah keputusan dalam ranah sosial, lingkungan, dan pembelajaran. Dalam hal sosial, murid dapat memilih kelompok yang sesuai dengan minat dan tujuan mereka. Di lingkungan, mereka bisa memilih tempat belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Sedangkan dalam pembelajaran, mereka diberikan pilihan untuk mengakses, berlatih, atau menunjukkan pemahaman mereka dalam kurikulum.

Kepemilikan (ownership) dalam pembelajaran mencerminkan rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan investasi pribadi seseorang dalam proses belajar. Ini menunjukkan bahwa murid merasa memiliki pembelajaran mereka sendiri, yang mendorong mereka untuk berpartisipasi lebih aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran. (diadaptasi dari volt DL.Damiano-Lantz M).

Lingkungan yang Mendukung Tumbuh Kembangnya Kepemimpinan

Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah lingkungan di mana guru, sekolah, orangtua, dan komunitas secara sadar mengembangkan wellbeing atau kesejahteraan diri murid-muridnya secara optimal. Noble et al (2008) menjelaskan bahwa kesejahteraan siswa yang optimal adalah sebuah keadaan emosional yang berkelanjutan yang dicirikan dengan (terutama) suasana hati dan sikap yang positif, hubungan positif dengan murid lain maupun guru, daya lenting atau ketangguhan, pengoptimalan kekuatan diri, serta tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pengalaman belajar mereka di sekolah Menyadur apa yang disampaikan oleh Noble tersebut, maka lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah :

  1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif.
  2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana, di mana murid akan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial positif yang berbasis pada nilai-nilai kebajikan yang dibangun oleh sekolah.
  3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya.
  4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
  5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan.
  6. Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri.
  7. Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.

Dalam rangka mewujudkan lingkungan belajar yang dapat menumbuhkan kepemimpinan murid, maka guru dan sekolah tentunya tidak dapat bekerja sendiri. Mereka akan memerlukan dukungan dari berbagai pihak, Salah satunya dari komunitas.

2. Emosi-emosi yang Dirasakan Terkait Pengalaman Belajar 

Emosi-emosi yang saya alami sehubungan dengan pengalaman belajar ini sangat positif. Saya merasa senang karena mendapatkan pengetahuan baru yang sangat menarik dan bermanfaat. Hal ini telah membuka pikiran saya untuk terus meningkatkan kualitas pengajaran saya dan memberikan yang terbaik untuk murid. Saya merasa tertantang untuk merancang program-program pendidikan yang melibatkan peran aktif murid dan memanfaatkan aset yang ada di sekolah dengan baik. Saya yakin bahwa prinsip "dari murid untuk murid" akan membantu menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency) dan menciptakan lingkungan belajar yang berpihak pada murid.

3. Apa yang Sudah Baik Berkaitan dengan Keterlibatan Dirinya dalam Proses Belajar 

Setelah mengikuti modul ini, saya mengidentifikasi beberapa aspek positif dalam keterlibatan saya dalam proses belajar. Pertama, saya menyadari bahwa sebagai pemimpin pembelajaran, langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, mentoring, dan evaluasi program sangat penting. Ini memberikan landasan yang kuat untuk program-program yang efektif. Selanjutnya, saya memahami betapa pentingnya seorang guru dalam menyusun program yang memberi ruang terhadap suara, pilihan, dan kepemilikan murid. Ini menciptakan rasa keterlibatan yang lebih dalam dan membuat pembelajaran menjadi lebih berarti bagi murid. Dengan demikian, saya telah mengidentifikasi aspek-aspek positif dalam peran saya sebagai pemimpin pembelajaran dan menyusun program yang mengutamakan partisipasi aktif murid.

4. Apa yang Perlu Diperbaiki Terkait dengan Keterlibatan Diri  dalam Proses Belajar 

Setelah memahami modul ini, saya merasa perlu untuk lebih mendengarkan suara anak dan memberi mereka kesempatan untuk memilih dan berpartisipasi dalam program-program yang kami susun. Ini akan meningkatkan rasa memiliki mereka terhadap program-program tersebut. Selain itu, saya menyadari nilai dan peran penting guru penggerak dalam mengelola program yang berdampak pada murid. Semangat inovasi dan tekad untuk memberikan yang terbaik bagi murid-murid mendorong saya untuk terus belajar dan mengajak mereka menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran, sehingga menciptakan keadaan yang lebih baik bagi mereka. Ini berimplikasi pada perkembangan kompetensi dan kematangan pribadi saya sebagai pemimpin pembelajaran.   

5. Keterkaitan terhadap Kompetensi dan Kematangan Pribadi

Setelah memepelajari modul ini, saya merasa kompetensi diri saya sebagai seorang guru dan Calon Guru Penggerak semakin terlatih.Saya memahami bagaimana menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency) melalui program sekolah yaitu intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan ko-kurikuler. Pengetahuan saya tentang Kepemimpinan Murid (Student Agency) berdampak terhadap kematangan diri pribadi yaitu saya lebih peduli terhadap program-program di sekolah terutama program yang dapat menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency). Di masa mendatang saya akan mengaplikasikan pengetahuan yang saya miliki untuk dapat menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency) dengan membuat berbagai program yang berdampak positif pada murid. Saya akan melakukan inovasi untuk membuat program-program yang melibatkan suara (voice), pilihan (choise) dan kepemilikan (ownership) murid sehingga murid akan terlibat aktif dalam program-program tersebut.

B. Analisis untuk Implementasi dalam Konteks CGP

1. Memunculkan Pertanyaan Kritis yang Berhubungan dengan Konsep Materi dan Menggalinya Lebih Jauh

Setelah mempelajari modul 3.3, pertanyaan kritis yang muncul berkaitan dengan materi Pengelolaan Program yang Berdampak positif pada Murid adalah "Bagaimana menggerakkan komunitas di sekolah untuk membuat program-program yang berdampak positif bagi murid dengan melibatkan suara, pilihan dan kepemilikan murid?". Mewujudkan program-program yang berdampak positif di sekolah tidak bisa dilakukan sendiri namun membutuhkan kolaborasi dan komitmen yang kuat antara Kepala Sekolah, guru, tenaga kependidikan, murid dan wali murid dan komunitas dengan memanfaatkan aset atau modal yang dimiliki oleh sekolah. Jika komunitas di sekolah berkolaborasi dan memiliki komitmen yang sama maka akan menciptakan lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid yaitu lingkungan di mana guru, sekolah, orangtua, dan komunitas secara sadar mengembangkan wellbeing atau kesejahteraan diri murid-muridnya secara optimal mendukung untuk menciptakan program-program di sekolah akan berjalan dengan baik.

2. Mengolah Materi yang Dipelajari dengan Pemikiran Pribadi sehingga Tergali Wawasan (Insight) Baru

Kepemimpinan Murid (Student Agency) adalah sebuah kondisi ketika murid mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.Untuk mewudkannya tidaklah instan namun membutuhkan waktu untuk berproses, dukungan berbagai pihak dan usaha yang berkelanjutan. Sangatlah penting bagi sekolah secara kolaboratif dengan berbagai komponen yang ada dalam ekosistem sekolah untuk memiliki komitmen yang kuat menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency) melalui berbagai program-program yang berdampak positif bagi murid sehingga akan membentuk generasi bangsa yang adaptif terhadap perkembangan zaman,lebih tangguh, kreatif dan inovatif menemukan solusi dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari, serta lebih matang dalam berfikir dan bertindak.

3. Menganalisis Tantangan yang Sesuai dengan Konteks Asal CGP 

Beberapa tantangan yang dihadapi di SDN Sukoharjo 1 Kota Probolinggo dalam menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency) antara lain:
1. Rendahnya pengetahuan dan pemahaman guru tentang bagaimana menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency) 
Pengetahuan dan pemehaman guru di SDN Sukoharjo 1 Kota Probolinggo tentang Kepemimpinan Murid (Student Agency) sangat rendah. Hampir 95% guru belum mengetahui tentang konsep tersebut, sehingga seringkali program-program intrakurikuler, ekstrakurikuler atau ko-kurikuler di sekolah tidak melibatkan suara, pilihan dan kepemilikan murid. Hal ini berdampak pada berkurangnya keterlibatan siswa terhadap program-program di sekolah.
2. Anggaran
Anggaran sangatlah dibutuhkan untuk melaksanakan program-program intrakurikuler, ekstrakurikuler atau ko-kurikuler di sekolah. Semakin banyak program yang dilaksanakan semakin banyak anggaran yang harus dikeluarkan. Hal ini menjadi tantangan dalam pelaksanaan program-program di sekolah ketika sekolah tidak memiliki dana yang cukup untuk melaksanakan program tersebut.

4. Memunculkan Alternatif Solusi terhadap Tantangan yang Diidentifikasi

Alternatif solusi untuk menghadapi tantangan di SDN Sukoharjo Kota Probolinggo untuk mengelola program-program yang berdampak positif pada murid, yaitu:
1. Melakukan sosialisasi atau diseminasi 
Sosialisasi atau diseminasi dapat menjadi alternatif solusi untuk menyebarkan pemahaman tentang Kepemimpinan Murid (Student Agency) dengan memanfaatkan komunitas belajar yang ada di sekolah yaitu Komunitas "Sukoji Belajar" dengan berbagi praktik baik berupa contoh-contoh konkret program-program yang dapat menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency) baik program intrakurikuler, ektstrakurikuler dan ko-kurikuler sehingga menginspirasi para guru untuk meniru dan mempraktikkannya secara kreatif dan inovatif.
2. Program yang variatif dan inovatif melibatkan suara, pilihan dan kepemilikan murid
Melibatkan suara dan pilihan murid dengan meminta pendapat lewat dialog interaktif, pengisian angket atau kuisioner dalam pelaksanaan program disekolah akan memberikan beragam ide untk membuat program tersebut menjadi lebih variatif dan inovatif sehingga murid merasa memiliki program tersebut  dan terlibat aktif mengikutinya.
3. Kolaborasi dengan orang tua/wali murid
Kolaborasi yang baik dengan orang tua/wali murid akan memberikan dukungan dan kemudahan bagi sekolah untuk mengadakan progran-program yang berdampak positif pada murid termasuk dalam membantu mengatasi anggaran dalam pelaksanaan program.

C. Membuat Keterhubungan

1. Pengalaman Masa Lalu

Pengalaman masa lalu yang masih sangat berkesan adalah mengikuti ekstrakurikuler Pramuka pada saat duduk di bangku SD. Pada saat itu saya sangat senang ketika ada kegiatan berkemah, dimana saat kemah saya mempunyai kesempatan untuk belajar tentang kemandirian sekaligus bergotong royang bersama teman. Saya dan teman-teman bergotong royong memasak untuk memenuhi kebutuhan makan selama berkemah. Selain itu, saya juga harus belajar mandiri bagaimana menyiapkan, menyimpan, menggunakan dan menjaga barang pribadi yang dibutuhkan saat kemah, misalnya pakaian, peralatan mandi dan peralatan masak. Hal menarik lainnya adalah ketika kegiatan penjelajahan bersama kelompok, dimana pada rute perjalanan itu kami berkelompok harus menyelesaikan misi pada setiap titik pos agar bisa melanjutkan rute pada titik pos selanjutnya. Kelompok yang paling cepat bisa menyelesaikan seluruh misi pada titik-titik pos yang sudah ditentukan adalah pemenangnya. Pengalaman-pengalaman ini sangat bermakna dan melatih saya menjadi disiplin, bertanggungjawab, peduli terhadap sesama dan tangguh menghadapi masalah dalam setiap kondisi. Pengalaman masa lalu ini juga memberikan inspirasi kepada saya yang saat ini sudah menjadi seorang guru dan sebagai calon guru penggerak untuk dapat membuat program-program yang inovatif dengan melibatkan suara, pilihan dan kepemilikan murid sehingga program tersebut bermakna dan berdampak positif bagi kehidupan murid dimasa kini bahkan juga di masa depannya. 

2. Penerapan di Masa Mendatang

Setelah saya mengetahui, memahami dan memperdalam materi modul 3.3, saya akan mengimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari terutama di lingkungan sekolah. Saya akan berusaha menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency) melalui program intarkurikuler, ekstrakurikuler atau ko-kurikuler yang berpihak pada murid dengan melibatkan suara, pilihan dan kepemilikan murid sehingga murid terlibat aktif, memberikan dampak positif serta pengalaman yang bermakna untuk murid. Selain itu saya juga akan melakukan diseminasi kepada rekan-rekan guru melalui komunitas belajar di sekolah untuk berbagi praktik baik tentang Kepemimpinan Murid (Student Agency) sehingga seluruh guru memiliki pengetahuan dan komitmen yang sama untuk berkolaborasi membuat program-program di sekolah yang dapat menumbuhkan Kepemimpinan Murid (Student Agency).

3. Konsep atau Praktik Baik yang Dilakukan dari Modul Lain yang Telah Dipelajari


Keterkaitan modul 3.3 dengan 1.1

Program yang berdampak positif pada murid harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Program yang dipilih haruslah sesuai dengan lingkungan alam dimana murid itu tinggal. Misalnya menyesuaikan dengan kearifan lokal budaya daerah setempat atau hasil alam daerah itu sehingga murid akan lebih mengenal dan mencintai daerahnya bahkan bisa menhasilkan produk unggulan di daerahnya. selain menyesuaikan denga kodrat alam, program sekolah juga mengikuti perkembangan zaman dengan mengintegrasikan perkembangan teknologi ke dalam program intrakurikuler, ekstrakurikuler atau ko-kurikuler sehingga murid lebih adaptif, kreatif, inovatif dan solutif menghadapai perubahan dan perkembangan zaman.

Keterkaitan modul 3.3 dengan 1.2

Dalam upaya menyusun dan mengelola program yang berdampak pada murid, penting bagi guru untuk menjunjung nilai-nilai seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Nilai-nilai ini harus menjadi landasan bagi guru dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan sehingga dapat memberikan pengaruh positif pada murid. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai ini, guru dapat memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan kapasitas mereka dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri. Hal ini memungkinkan potensi kepemimpinan murid untuk berkembang dengan optimal. Guru memiliki peran sebagai pendamping yang membimbing murid dalam proses ini, sehingga pengembangan potensi kepemimpinan mereka sesuai dengan karakteristik, konteks, dan kebutuhan individu tetap terjaga, sambil tetap menjaga kontrol yang diperlukan.

Keterkaitan modul 3.3 dengan 1.3

Visi seorang guru penggerak sangat berkaitan dengan menciptakan lingkungan pembelajaran yang berfokus pada kesejahteraan murid dan menjalankan program sekolah dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung ekosistem pembelajaran yang berpihak pada murid. Dengan memanfaatkan pendekatan Inquiri Apresiatif (IA) dengan alur BAGJA dalam perencanaan, guru penggerak dapat mengapresiasi kekuatan dan potensi murid serta menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka. Alur BAGJA memberikan panduan komprehensif untuk perencanaan yang melibatkan berbagai pihak dalam proses pembelajaran, sehingga dapat mencapai visi lingkungan pembelajaran yang berpihak pada murid dan berdampak positif bagi semua pemangku kepentingan sekolah.

Keterkaitan modul 3.3 dengan 1.4

Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid diharapkan akan menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah. Budaya positif ini melibatkan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa, terutama dalam menghormati dan memahami kodrat individu anak-anak. Dalam lingkungan belajar yang penuh dengan budaya positif, siswa diajak untuk berkomunikasi dua arah dengan guru, dan nilai-nilai pendidikan karakter ditanamkan dalam upaya mendukung pelaksanaan program sekolah yang berdampak positif pada murid. Dengan demikian, diharapkan budaya positif ini akan memengaruhi perilaku siswa secara positif dan membantu mencapai tujuan program pendidikan yang lebih luas.


Keterkaitan modul 3.3 dengan 2.1

Merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid tidak terlepas dari pemahaman terhadap kebutuhan individu murid, seperti tingkat kesiapan belajar mereka, minat belajar, dan profil belajar masing-masing siswa. Seorang guru penggerak diberi bekal untuk memahami betapa pentingnya fokus pada kebutuhan murid, karena setiap murid memiliki kebutuhan unik. Kepahaman akan keragaman ini menjadi landasan untuk merancang program yang akan memberikan dampak positif pada murid. Keragaman ini, justru menjadi aset yang berharga karena memungkinkan guru untuk merancang program-program yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu murid, sehingga memastikan bahwa program tersebut dapat berdampak positif sesuai dengan keunikan masing-masing murid.


Keterkaitan modul 3.3 dengan 2.2

Dalam perencanaan program yang berdampak pada murid, sangat penting bagi guru untuk mengintegrasikan pembelajaran social emosional. Ini diperlukan agar memfasilitasi kesadaran penuh (mindfulness) pada murid. Saat program berjalan, murid dapat merasakan ketenangan, fokus, empati, motivasi, dan tanggung jawab terhadap pilihan-pilihan mereka. Teknik mindfulness menjadi strategi yang efektif dalam mengembangkan lima kompetensi sosial yang didasarkan pada orientasi yang berpihak pada murid dan berdampak positif pada perkembangan anak.


Keterkaitan modul 3.3 dengan 2.3

Coaching memiliki peran penting dalam menggali potensi dan meningkatkan kinerja murid, terutama ketika mereka harus mencari solusi untuk permasalahan yang timbul saat menjalankan program yang berdampak pada murid. Dalam hal ini, sikap kreatif, inovatif, dan berpikir kritis dari murid sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan mereka menjadi pelajar yang mandiri. Coaching memberikan kesempatan kepada murid untuk berkembang dan mengembangkan kemampuan berpikir pribadi mereka. Oleh karena itu, dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid, coaching dapat menjadi strategi efektif dalam mengembangkan potensi murid.

Keterkaitan modul 3.3 dengan 3.1

Seorang pemimpin pembelajaran adalah individu yang bertanggung jawab untuk menciptakan perubahan yang positif dan bekerja sama dengan orang lain. Untuk memastikan keputusan yang diambil dalam perencanaan program adalah efektif dan efisien, ada tiga prinsip berpikir, empat paradigma pengambilan keputusan, dan sembilan langkah pengujian dan pengambilan keputusan yang perlu diperhatikan oleh pemimpin pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memberikan rasa percaya diri, keamanan, dan kebahagiaan bagi murid dan semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid.


Keterkaitan modul 3.3 dengan 3.2

Dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid, sangat penting untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan aset atau sumber daya yang dimiliki oleh sekolah. Ini akan membantu dalam penggunaan yang efektif dari sumber daya tersebut. Dengan berfokus pada kekuatan yang ada, perencanaan dan pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat dilakukan dengan lebih efisien dan efektif. Hal ini harus menjadi perhatian bersama bagi semua pihak yang terlibat dalam pendidikan.

4. Informasi yang Didapat dari Orang atau Sumber Lain di Luar Bahan Ajar CGP



Sumber belajar lain perihal Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid, saya pelajari melalui artikel yang berjudul "Penyusunan Program Sekolah yang Berpihak Pada Siswa Berdasarkan Pemetaan Aset Dengan Alur BAGJA oleh Calon Guru Penggerak (CGP) SMK Negeri 1 Kemangkon. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa disimpulkan bahwa Program sekolah yang mengedepankan kepentingan murid memiliki potensi untuk membangkitkan kepemimpinan murid (Student Agency). Menggalakkan kepemimpinan murid dalam program-program sekolah tidak hanya membantu mereka menjadi individu yang lebih bertanggung jawab, berdaya, dan kontributif, tetapi juga memberikan pengalaman dan makna yang mendalam dalam proses belajar mereka. Hal ini pada akhirnya akan membekali mereka sebagai pembelajar sepanjang hayat, sehingga dampak positif dari pengalaman belajar saat ini akan terus berkelanjutan hingga masa depan mereka.






No comments:

Post a Comment

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID OLEH: FARIDAH HASANAH RAHAYU CGP ANGKATAN 11 KOTA PROBO...