Wednesday, August 28, 2024

PENERAPAN BUDAYA POSITIF MELALUI KEYAKINAN KELAS DAN SEGITIGA RESTITUSI

 BUDAYA POSITIF

    Budaya Positif adalah sebuah pendekatan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, inklusif, dan mendukung pertumbuhan individu. Di lingkungan sekolah sangat penting menciptakan budaya positif agar tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh warga sekolah. Budaya Positif akan mendukung pertumbuhan psikis, mental dan karakter seluruh warga sekolah menjadi lebih baik. Beberapa konsep kunci tentang budaya positif yang saya pelajari pada pendidikan calon guru penggerak angkatan 11 ini adalah perubahan paradigma stimulus respon  kepada teori kontrol, disiplin positif, nilai-nilai kebajikan universal, 3 motivasi manusia, hukuman, penghargaan konsekuensi dan restitusi, keyakinan kelas, kebutuhan dasar manusia, lima posisi kontrol, dan penerapan segitiga restitusi.

1. Paradigma Perubahan

        Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’. 
  1. Ilusi guru mengontrol murid. Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai.
  2. Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat. Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya, dan mencoba untuk menolak bujukan kita atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.
  3. Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter. Menggunakan kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju pada identitas gagal. Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri mereka. Mereka mengembangkan dialog diri yang negatif. Kadang kala sulit bagi guru untuk mengidentifikasi bahwa mereka sedang melakukan perilaku ini, karena seringkali guru cukup menggunakan ‘suara halus’ untuk menyampaikan pesan negatif. 
  4. Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa. Banyak orang dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun yang dilakukan dapat diterima, selama ada sebuah kemajuan berdasarkan sebuah pengukuran kinerja. Pada saat itu pula, orang dewasa akan menyadari bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif untuk jangka waktu panjang, dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk. 
    Berikut adalah tabel perubahan dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan teori Kontrol

2. Disiplin Positif

    Ki Hadjar Dewantaran dan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. Diane menyatakan bahwa disiplin positif adalah disiplin diri, bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai agar tercapai tujuan mulia yang diinginkan. Disiplin positif  merupakan unsur utama dalam terwujudnya budaya positif di sekolah-sekolah.
    Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal. Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

3. Nilai-nilai Kebajikan Universal

    Makna disiplin positif yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara maupun Diane Gossen, di mana kedua pakar pendidikan mengartikan disiplin sebagai bentuk kontrol diri, yaitu belajar untuk kontrol diri agar dapat mencapai suatu tujuan mulia. Tujuan mulia di sini mengacu pada nilai-nilai atau prinsip-prinsip mulia yang dianut seseorang. Kita namakan nilai-nilai tersebut sebagai nilai-nilai kebajikan (virtues) yang universal. nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama, lepas dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya. Nilai-nilai ini merupakan ‘payung besar’ dari sikap dan perilaku kita, atau nilai-nilai ini merupakan fondasi kita berperilaku. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu.
    Dr. William Glasser pada Teori Kontrol (1984), menyatakan bahwa setiap perbuatan memiliki suatu tujuan, dan selanjutnya Diane Gossen (1998) mengemukakan bahwa dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan.
    Beberapa contoh nilai-nilai kebajikan dari berbagai organisasi di dunia, antara lain:

1. Profil Pelajar Pancasila 
Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Berkebinekaan Global, Bergotong royong, dan Kreatif.

2. IBO Primary Years Program (PYP) 
Sikap Murid: Toleransi, Rasa Hormat, Integritas, Mandiri, Menghargai, Antusias, Empati, Keingintahuan, Kreativitas, Kerja sama, Percaya Diri, Komitmen 
Sembilan Pilar Karakter (Indonesian Heritage Foundation/IHF):
Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA, Kemandirian dan Tanggung jawab, Kejujuran (Amanah), Diplomatis, Hormat dan Santun, Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong, Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras, Kepemimpinan dan Keadilan, Baik dan Rendah Hati, Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan.

3. Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfelong Guidelines and Life Skills) 
Keterampilan Hidup, Dapat dipercaya, Lurus Hati, Pendengar yang Aktif , Tidak Merendahkan Orang Lain, Memberikan yang Terbaik dari Diri Petunjuk Hidup, Peduli, Penalaran, Bekerja sama, Keberanian, Keingintahuan, Usaha, Keluwesan/ Fleksibilitas, Berorganisasi, Kesabaran, Keteguhan hati, Kehormatan, Memiliki Rasa Humor, Berinisiatif, Integritas, Pemecahan Masalah, Sumber pengetahuan, Tanggung jawab, Persahabatan 

4. The Seven Essential Virtues (Building Moral Intelligence, Michele Borba): 
Empati, Suara Hati, Kontrol Diri, Rasa Hormat, Kebaikan, Toleransi, dan Keadilan.

5. The Virtues Project (Proyek Nilai-nilai Kebajikan)


4. Motivasi Perilaku Manusia

    Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia:
  • Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
  • Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
  • Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilainilai yang mereka percaya
Hukuman
Upaya disiplin melalui hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata. Disiplin melalui hukuman membuat seseorang berperilaku dengan motivasi eksternal sehingga hanya akan berdampak sementara.

Konsekuensi
Disiplin dalam bentuk konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Umumnya bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima bila ada pelanggaran. Pada konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek. Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur, misalnya, setelah 3 kali tugasnya tidak diselesaikan pada batas waktu yang diberikan, atau murid melakukan kegiatan di luar kegiatan pembelajaran, misalnya mengobrol, maka murid tersebut akan kehilangan waktu bermain, dan harus menyelesaikan tugas karena ketertinggalannya. Peraturan dan konsekuensi yang mengikuti ini sudah diketahui sebelumnya oleh murid. Sikap guru di sini senantiasa memonitor murid.

Penghargaan
Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995) mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Menurut Kohn, secara ideal tindakan belajar itu sendiri adalah penghargaan sesungguhnya. 

Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang 
  • Penghargaan efektif jika kita menginginkan seseorang melakukan sesuatu yang kita inginkan, dalam jangka waktu pendek. 
  • Jika kita menggunakan penghargaan lagi, dan lagi, maka orang tersebut akan bergantung pada penghargaan yang diberikan, serta kehilangan motivasi dari dalam.
  • Jika kita mendapatkan penghargaan untuk melakukan sesuatu yang baik, maka selain kita senantiasa berharap mendapatkan penghargaan tersebut lagi, kita pun menjadi tidak menyadari tindakan baik yang kita lakukan.
Dampak Negatif Penghargaan
  • Penghargaan Tidak Efektif.
  • Penghargaan Merusak Hubungan
  • Penghargaan Mengurangi Ketepatan
  • Penghargaan Menurunkan Kualitas
  • Penghargaan Mematikan Kreativitas
  • Penghargaan Menghukum 
Motivasi Dalam Diri (Instrinsik)
Motivasi instrinsik ini berasal dari dalam diri seseorang terkait dengan tujuan mulian yang ingin dicapai. Tujuan mulia tersebut berkaitan erat dengan nilai-nilai kebajikan yang dimiliki oleh seseorang. Jadi, motivasi instrinsik inilah poin paling penting dalam mewujudkan disiplin positif murid. 

Restitusi
Motivasi instrinsik dalam mewujudkan disiplin positif murid dapat dilakukan melalui penerapan restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).
Berikut ini adalah ciri-ciri restitusi yang membedakannya dengan program disiplin lainnya.  
  • Restitusi bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan
  • Restitusi memperbaiki hubungan
  • Restitusi adalah tawaran, bukan paksaan
  • Restitusi ‘menuntun’ untuk melihat ke dalam diri
  • Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan
  • Restitusi diri adalah cara yang paling baik mengevaluasi diri
  • Restitusi fokus pada karakter bukan tindakan 
  • Restitusi menguatkan
  • Restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya  

5. Keyakinan Kelas

    Nilai kebajikan yang disepakati bersama oleh guru dan siswa dalam sebuah kelas yang memandu perilaku dan interaksi di dalam kelas, menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif.




Pembentukan Keyakinan Kelas IA SDN Sukoharjo 1 Kota Probolinggo





Keyakinan Kelas IA SDN Sukoharjo 1 Kota Probolinggo


6. Kebutuhan Dasar Manusia

        Ada 5 kebutuhan dasar manusia, yaitu:



    Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan penguasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.

7. Lima Posisi Kontrol

    Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer.

1. Penghukum (Nada suara tinggi, bahasa tubuh: mata melotot, dan jari menunjuknunjuk menghardik)
Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-rang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Guru-guru yang menerapkan posisi penghukum akan berkata: 
“Patuhi aturan saya, atau awas!” 
“Kamu selalu saja salah!” 
Selalu, pasti selalu yang terakhir selesai” 
Guru seperti ini senantiasa percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu cara dia. 

2. Pembuat Merasa Bersalah (Nada suara memelas/halus/sedih, bahasa tubuh: merapat pada anak, lesu)
Pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti: 
“Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu” 
“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?” 
“Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat begini?” 
Di posisi ini murid akan memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan telah mengecewakan orang-orang disayanginya.

3. Teman (nada suara: ramah, akrab, dan bercanda, bahasa tubuh: merapat pada murid, mata dan senyum jenaka)
Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata: 
“Ayo bantulah, demi bapak ya?” 
“Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?” 
“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”. 
Hal negatif dari posisi teman adalah bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha. Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru tersebut. 

4. Pemantau (nada suara datar, bahasa tubuh yang formal)
Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturanperaturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau. Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau: 
“Peraturannya apa?” 
“Apa yang telah kamu lakukan?” 
“Sanksi atau konsekuensinya apa?” 
Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek. Posisi pemantau sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol murid.

5. Manajer (nada suara tulus, bahasa tubuh tidak kaku, mendekat ke murid)
Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri. Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. Seorang manajer akan berkata: 
“Apa yang kita yakini?” (kembali ke keyakinan kelas) 
“Apakah kamu meyakininya?” 
“Jika kamu meyakininya, apakah kamu bersedia memperbaikinya?” 
“Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang dirimu?” 
“Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?” 
Tugas seorang manajer bukan untuk mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid untuk dapat mengatur dirinya. Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari kelompoknya, tapi mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik dan kuat. Bisa jadi dalam praktik penerapan disiplin sehari-hari, kita akan kembali ke posisi Teman atau Pemantau, karena murid yang ditangani belum siap diajak berdiskusi atau diundang melakukan restitusi. Namun perlu disadari tujuan akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.

7. Segitiga Restitusi

    Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)
Langkah-langkah restitusi, yaitu


Penerapan Segitiga Retitusi di Kelas IA SDN Sukoharjo 1 Kota Probolinggo



8. Aksi Nyata Pemahaman dan Penerapan Budaya Positif

    Aksi Nyata membagikan pemahaman dan pengalaman tentang budaya positif kepada guru-guru di sekolah melalui kegiatan mandiri dan membuat webinar kecil. Aksi nyata ini dilakukan pada Sabtu, 24 Agustus 2024 pukul 11.00-13.00 WIB di SDN Sukoharjo 1. Saya berkolaborasi dengan rekan sejawat saya yang juga seorang calon guru penggerak angkatan 11 Kota probolinggo melakukan Diseminasi Penerapan dan Pemahaman Budaya Positif.

Latar Belakang

Latar belakang dari aksi nyata penerapan budaya positif di sekolah adalah karena banyaknya perilaku murid yang menyimpang yang terjadi di sekolah, namun sebagian besar guru masih belum mengetahui konsep-konsep penerapan budaya positif di sekolah, sehingga cara guru dalam menangani kasus-kasus menyimpang di sekolah masih kurang tepat.

Tujuan

Menciptakan lingkungan sekolah yang berpihak pada murid, aman, nyaman dan menyenangkan bagi seluruh warga di sekolah sehingga masing-masing warga sekolah dapat berinteraksi dengan baik serta mendapatkan kesejahteraan mental yang mendukung tumbuhnya karakter yang sesuai dengan dimensi pada profil pelajar Pancasila.

Tolak Ukur

Indikator bahwa tindakan ini berjalan dengan baik adalah mulai terlihat perubahan perilaku murid menjadi lebih baik dan berkurangnya perilaku menyimpang karena ada motivasi internal, bukan karena hukuman ataupun penghargaan.

Linimasa Tindakan

  • Memberikan teladan dengan perkataan, sikap dan perbuatan setiap hari.
  • Menerapkan posisi sebagai manajer di kelas setiap hari
  • Melakukan segitiga restitusi setiap ada perilaku menyimpang dari murid
  • Melakukan sosialisasi kepada rekan guru pada minggu ke-3 bulan Agustus 2024

Daya Dukung

  • Dukungan yang dibutuhkan adalah dukungan kepala sekolah serta semua warga sekolah termasuk murid dan orang tua
  • Dukungan sarana sosialisasi berupa ruangan, proyektor, serta akses internet
  • Alat dan bahan sosialisasi yaitu media online

Dokumentasi











No comments:

Post a Comment

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID OLEH: FARIDAH HASANAH RAHAYU CGP ANGKATAN 11 KOTA PROBO...