PENERAPAN BUDAYA POSITIF MELALUI KEYAKINAN KELAS DAN SEGITIGA RESTITUSI
BUDAYA POSITIF
Budaya Positif adalah sebuah pendekatan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, inklusif, dan mendukung pertumbuhan individu. Di lingkungan sekolah sangat penting menciptakan budaya positif agar tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh warga sekolah. Budaya Positif akan mendukung pertumbuhan psikis, mental dan karakter seluruh warga sekolah menjadi lebih baik. Beberapa konsep kunci tentang budaya positif yang saya pelajari pada pendidikan calon guru penggerak angkatan 11 ini adalah perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol, disiplin positif, nilai-nilai kebajikan universal, 3 motivasi manusia, hukuman, penghargaan konsekuensi dan restitusi, keyakinan kelas, kebutuhan dasar manusia, lima posisi kontrol, dan penerapan segitiga restitusi.
1. Paradigma Perubahan
Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian
hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan miskonsepsi tentang
makna ‘kontrol’.
Ilusi guru mengontrol murid.Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid
tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya guru sedang
mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid sedang mengizinkan
dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih
murid tersebut. Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan,
bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai.
Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat.
Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha untuk
mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah suatu usaha
untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, kemungkinan murid
tersebut akan menyadarinya, dan mencoba untuk menolak bujukan kita atau bisa jadi
murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.
Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan
karakter.
Menggunakan kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju pada identitas
gagal. Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri mereka. Mereka
mengembangkan dialog diri yang negatif. Kadang kala sulit bagi guru untuk
mengidentifikasi bahwa mereka sedang melakukan perilaku ini, karena seringkali guru
cukup menggunakan ‘suara halus’ untuk menyampaikan pesan negatif.
Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.
Banyak orang dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk
membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun yang dilakukan dapat diterima,
selama ada sebuah kemajuan berdasarkan sebuah pengukuran kinerja. Pada saat itu
pula, orang dewasa akan menyadari bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif untuk
jangka waktu panjang, dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk.
Berikut adalah tabel perubahan dari paradigma Stimulus-Respon kepada pendekatan
teori Kontrol
2. Disiplin Positif
Ki Hadjar Dewantaran dan Diane Gossen dalam bukunya
Restructuring School Discipline, 2001. Diane menyatakan bahwa disiplin positif adalah disiplin diri, bagaimana cara kita
mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu
pada nilai-nilai yang kita hargai agar tercapai tujuan mulia yang diinginkan. Disiplin positif merupakan unsur utama
dalam terwujudnya budaya positif di sekolah-sekolah.
Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung
jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka
pada nilai-nilai kebajikan universal. Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri
sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal
dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.
3. Nilai-nilai Kebajikan Universal
Makna disiplin positif yang
dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara maupun Diane Gossen, di mana kedua pakar
pendidikan mengartikan disiplin sebagai bentuk kontrol diri, yaitu belajar untuk kontrol diri
agar dapat mencapai suatu tujuan mulia. Tujuan mulia di sini mengacu pada nilai-nilai atau
prinsip-prinsip mulia yang dianut seseorang. Kita namakan nilai-nilai tersebut sebagai nilai-nilai kebajikan (virtues) yang universal. nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama, lepas
dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya. Nilai-nilai ini merupakan ‘payung
besar’ dari sikap dan perilaku kita, atau nilai-nilai ini merupakan fondasi kita berperilaku. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin
dicapai setiap individu.
Dr. William Glasser pada Teori
Kontrol (1984), menyatakan bahwa setiap perbuatan memiliki suatu tujuan, dan selanjutnya
Diane Gossen (1998) mengemukakan bahwa dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang
diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan
motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan.
Beberapa contoh nilai-nilai kebajikan dari berbagai organisasi di dunia, antara lain:
1. Profil Pelajar Pancasila
Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Berkebinekaan Global, Bergotong royong, dan Kreatif.
2. IBO Primary Years Program (PYP)
Sikap Murid: Toleransi, Rasa Hormat, Integritas, Mandiri, Menghargai, Antusias, Empati, Keingintahuan, Kreativitas, Kerja sama, Percaya Diri, Komitmen
Sembilan Pilar Karakter (Indonesian Heritage Foundation/IHF):
Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA, Kemandirian dan Tanggung jawab, Kejujuran (Amanah), Diplomatis, Hormat dan Santun, Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong, Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras, Kepemimpinan dan Keadilan, Baik dan Rendah Hati, Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan.
3. Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfelong Guidelines and Life Skills)
Keterampilan Hidup, Dapat dipercaya, Lurus Hati, Pendengar yang Aktif , Tidak Merendahkan Orang Lain, Memberikan yang Terbaik dari Diri
Petunjuk Hidup, Peduli, Penalaran, Bekerja sama, Keberanian, Keingintahuan, Usaha, Keluwesan/
Fleksibilitas, Berorganisasi, Kesabaran, Keteguhan hati, Kehormatan, Memiliki Rasa Humor, Berinisiatif, Integritas, Pemecahan Masalah, Sumber pengetahuan, Tanggung jawab, Persahabatan
4. The Seven Essential Virtues (Building Moral Intelligence, Michele Borba):
Empati, Suara Hati, Kontrol Diri, Rasa Hormat, Kebaikan, Toleransi, dan Keadilan.
5. The Virtues Project (Proyek Nilai-nilai Kebajikan)
4. Motivasi Perilaku Manusia
Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi
perilaku manusia:
Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilainilai yang mereka percaya
Hukuman
Upaya disiplin melalui hukuman bersifat tidak
terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan.
Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima
suatu hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum
atau sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti
oleh suatu perbuatan atau kata-kata. Disiplin melalui hukuman membuat seseorang berperilaku dengan motivasi eksternal sehingga hanya akan berdampak sementara.
Konsekuensi
Disiplin dalam bentuk konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati; sudah
dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Umumnya bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh
pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima
bila ada pelanggaran. Pada konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu
pendek. Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur,
misalnya, setelah 3 kali tugasnya tidak diselesaikan pada batas waktu yang diberikan, atau murid
melakukan kegiatan di luar kegiatan pembelajaran, misalnya mengobrol, maka murid tersebut
akan kehilangan waktu bermain, dan harus menyelesaikan tugas karena ketertinggalannya.
Peraturan dan konsekuensi yang mengikuti ini sudah diketahui sebelumnya oleh murid. Sikap
guru di sini senantiasa memonitor murid.
Penghargaan
Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995)
mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku
seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Menurut
Kohn, secara ideal tindakan belajar itu sendiri adalah penghargaan sesungguhnya.
Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Penghargaan efektif jika kita menginginkan seseorang melakukan sesuatu yang
kita inginkan, dalam jangka waktu pendek.
Jika kita menggunakan penghargaan lagi, dan lagi, maka orang tersebut akan
bergantung pada penghargaan yang diberikan, serta kehilangan motivasi dari
dalam.
Jika kita mendapatkan penghargaan untuk melakukan sesuatu yang baik, maka
selain kita senantiasa berharap mendapatkan penghargaan tersebut lagi, kita
pun menjadi tidak menyadari tindakan baik yang kita lakukan.
Dampak Negatif Penghargaan
Penghargaan Tidak Efektif.
Penghargaan Merusak Hubungan
Penghargaan Mengurangi Ketepatan
Penghargaan Menurunkan Kualitas
Penghargaan Mematikan Kreativitas
Penghargaan Menghukum
Motivasi Dalam Diri (Instrinsik)
Motivasi instrinsik ini berasal dari dalam diri seseorang terkait dengan tujuan mulian yang ingin dicapai. Tujuan mulia tersebut berkaitan erat dengan nilai-nilai kebajikan yang dimiliki oleh seseorang. Jadi, motivasi instrinsik inilah poin paling penting dalam mewujudkan disiplin positif murid.
Restitusi
Motivasi instrinsik dalam mewujudkan disiplin positif murid dapat dilakukan melalui penerapan restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan
mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang
lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi
untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka
inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen,
1996).
Berikut ini adalah ciri-ciri restitusi yang membedakannya dengan program disiplin
lainnya.
Restitusi bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan
Restitusi memperbaiki hubungan
Restitusi adalah tawaran, bukan paksaan
Restitusi ‘menuntun’ untuk melihat ke dalam diri
Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan
Restitusi diri adalah cara yang paling baik mengevaluasi diri
Restitusi fokus pada karakter bukan tindakan
Restitusi menguatkan
Restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya
5. Keyakinan Kelas
Nilai kebajikan yang disepakati bersama oleh guru dan siswa dalam sebuah kelas yang memandu perilaku dan interaksi di dalam kelas, menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif.
Pembentukan Keyakinan Kelas IA SDN Sukoharjo 1 Kota Probolinggo
Keyakinan Kelas IA SDN Sukoharjo 1 Kota Probolinggo
6. Kebutuhan Dasar Manusia
Ada 5 kebutuhan dasar manusia, yaitu:
Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah
usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan
apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari
satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kasih
sayang dan rasa diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun),
dan penguasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang
bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya
dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.
7. Lima Posisi Kontrol
Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr.
William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru,
orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah
Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer.
1. Penghukum (Nada suara tinggi, bahasa tubuh: mata melotot, dan jari menunjuknunjuk menghardik)
Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-rang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah
memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Guru-guru yang menerapkan posisi penghukum akan berkata:
“Patuhi aturan saya, atau awas!”
“Kamu selalu saja salah!”
Selalu, pasti selalu yang terakhir selesai”
Guru seperti ini senantiasa percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu
cara dia.
2. Pembuat Merasa Bersalah (Nada suara memelas/halus/sedih, bahasa tubuh:
merapat pada anak, lesu)
Pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat
rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman,
bersalah, atau rendah diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti:
“Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu”
“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?”
“Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat begini?”
Di posisi ini murid akan memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa
tidak berharga, dan telah mengecewakan orang-orang disayanginya.
3. Teman (nada suara: ramah, akrab, dan bercanda, bahasa tubuh: merapat pada
murid, mata dan senyum jenaka)
Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya
mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif
di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman
menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata:
“Ayo bantulah, demi bapak ya?”
“Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?”
“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”.
Hal negatif dari posisi teman adalah bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid
akan kecewa dan berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa dikecewakan, dan
tidak mau lagi berusaha. Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak
untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru tersebut.
4. Pemantau(nada suara datar, bahasa tubuh yang formal)
Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab
atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturanperaturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan
hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau.
Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau:
“Peraturannya apa?”
“Apa yang telah kamu lakukan?”
“Sanksi atau konsekuensinya apa?”
Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan
sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan, daftar
cek. Posisi pemantau sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung
jawab guru dalam mengontrol murid.
5. Manajer (nada suara tulus, bahasa tubuh tidak kaku, mendekat ke murid)
Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid,
mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat
menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan
di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu
kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu
mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya
sendiri. Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan
orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat
berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. Seorang manajer
akan berkata:
“Apa yang kita yakini?” (kembali ke keyakinan kelas)
“Apakah kamu meyakininya?”
“Jika kamu meyakininya, apakah kamu bersedia memperbaikinya?”
“Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang dirimu?”
“Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?”
Tugas seorang manajer bukan untuk mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid
untuk dapat mengatur dirinya. Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari
kelompoknya, tapi mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik dan kuat.
Bisa jadi dalam praktik penerapan disiplin sehari-hari, kita akan kembali ke posisi Teman atau
Pemantau, karena murid yang ditangani belum siap diajak berdiskusi atau diundang melakukan
restitusi. Namun perlu disadari tujuan akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah
pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah murid dapat menjadi pribadi yang mandiri,
merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat
menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.
7. Segitiga Restitusi
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)
Langkah-langkah restitusi, yaitu
Penerapan Segitiga Retitusi di Kelas IA SDN Sukoharjo 1 Kota Probolinggo
8. Aksi Nyata Pemahaman dan Penerapan Budaya Positif
Aksi Nyata membagikan pemahaman dan pengalaman tentang budaya positif kepada guru-guru di sekolah melalui kegiatan mandiri dan membuat webinar kecil. Aksi nyata ini dilakukan pada Sabtu, 24 Agustus 2024 pukul 11.00-13.00 WIB di SDN Sukoharjo 1. Saya berkolaborasi dengan rekan sejawat saya yang juga seorang calon guru penggerak angkatan 11 Kota probolinggo melakukan Diseminasi Penerapan dan Pemahaman Budaya Positif.
Latar Belakang
Latar belakang dari aksi nyata penerapan budaya positif di sekolah adalah karena banyaknya perilaku murid yang menyimpang yang terjadi di sekolah, namun sebagian besar guru masih belum mengetahui konsep-konsep penerapan budaya positif di sekolah, sehingga cara guru dalam menangani kasus-kasus menyimpang di sekolah masih kurang tepat.
Tujuan
Menciptakan lingkungan sekolah yang berpihak pada murid,aman, nyamandan menyenangkan bagi seluruh warga di sekolah sehingga masing-masing warga sekolah dapat berinteraksi dengan baik serta mendapatkan kesejahteraan mental yang mendukung tumbuhnya karakter yang sesuai dengan dimensi pada profil pelajar Pancasila.
Tolak Ukur
Indikator bahwa tindakan ini berjalan dengan baik adalah mulai terlihat perubahan perilaku murid menjadi lebih baik dan berkurangnya perilaku menyimpang karena ada motivasi internal, bukan karena hukuman ataupun penghargaan.
Linimasa Tindakan
Memberikan teladan dengan perkataan, sikap dan perbuatan setiap hari.
Menerapkan posisi sebagai manajer di kelas setiap hari
Melakukan segitiga restitusi setiap ada perilaku menyimpang dari murid
Melakukan sosialisasi kepada rekan guru pada minggu ke-3 bulan Agustus 2024
Daya Dukung
Dukungan yang dibutuhkan adalah dukungan kepala sekolah serta semua warga sekolah termasuk murid dan orang tua
Dukungan sarana sosialisasi berupa ruangan, proyektor, serta akses internet
No comments:
Post a Comment