Wednesday, October 23, 2024

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI SEBAGAI PEMIMPIN

 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI SEBAGAI PEMIMPIN


OLEH:

FARIDAH HASANAH RAHAYU

CGP ANGKATAN 11 KOTA PROBOLINGGO


Fasilitator: Bapak Mawan Suliyadi
Pengajar Praktik: Ibu Herlina Agus Verawati

A. Pertanyaan Pemantik


Bacalah kutipan ini dan tafsirkan apa maksudnya:

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

1. Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?


Kutipan dari Bob Talbert tersebut menggarisbawahi bahwa mengajarkan murid pengetahuan dan keterampilan teknis (seperti menghitung) itu penting, tetapi tidak kalah pentingnya juga menanamkan nilai-nilai kebajikan, pendidikan karakter, dan etika. Hal Ini sangat relevan dengan proses pembelajaran yang saya pelajari saat ini, terutama dalam konteks disiplin positif dan budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi, dan pembelajaran sosial emosional melalui KSE serta pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai sebagai pemimpin.

2. Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita? 


Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam pengambilan keputusan dapat memberikan dampak besar pada lingkungan sekitar kita, termasuk lingkungan belajar. Keputusan yang diambil berdasarkan nilai-nilai etika, keadilan, integritas, dan empati akan menciptakan lingkungan yang kondusif, inklusif serta wellbeing bagi setiap individu di dalamnya. Sebaliknya, keputusan yang didasari oleh ketidakpedulian atau tindakan yang tidak adil dapat menimbulkan konflik, ketidakpercayaan, dan merusak suasana belajar.

3. Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?


Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, kontribusi saya dalam proses pembelajaran murid melalui pengambilan keputusan, sangat penting dalam membentuk lingkungan belajar yang mendukung dan inspiratif. Keputusan-keputusan yang saya buat dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan mengembangkan keterampilan siswa dalam berpikir kritis, bekerja sama, serta bertanggung jawab. Berikut adalah beberapa cara di mana saya dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid melalui pengambilan keputusan adalah menjadi teladan dalam pengambilan keputusan yang etis, mengintegrasikan nilai-nilai sosial dan emosional dalam Pengambilan Keputusan, memberikan kesempatan murid untuk pengambilan keputusan yang mandiri, membantu murid mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui berbagai model pembelajaran (contoh: problem based learning atau projek based learning), serta membangun lingkungan belajar yang adil.

4. Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.


Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Kutipan Hegel "Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis" memiliki makna mendalam yang erat kaitannya dengan tujuan mendidik manusia secara holistik. Pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, nilai-nilai, dan perilaku yang etis. Pendidikan holistik menekankan bahwa murid harus berkembang secara menyeluruh, tidak hanya dalam aspek kognitif (pengetahuan), tetapi juga aspek afektif (emosi dan nilai), psikomotor (keterampilan fisik), dan sosial. Dalam modul ini saya belajar tentang pengambilan keputusan berbasis nilai dan prinsip etika. Jika dihubungkan dengan kutipan ini, saya melihat bahwa proses pembelajaran bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan akademik saja, tetapi juga membentuk karakter menjadi individu yang etis dan berperilaku baik, sehingga dapat membekali murid dalam membuat keputusan etis dan bijaksana. 
 

B. Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran (Koneksi Antarmateri):


1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? 

Pratap Triloka adalah ajaran filsafat kepemimpinan yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara, yang terdiri dari tiga prinsip utama dalam memimpin, yaitu:

Ing Ngarso Sung Tulodo  (Di depan memberi teladan) 
Seorang pemimpin yang berada di depan harus mampu menjadi contoh atau teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Dengan menunjukkan sikap, tindakan, dan perilaku yang baik, seorang pemimpin dapat mempengaruhi orang lain untuk mengikuti jejak yang positif.

Dalam pengambilan keputusan: Pemimpin harus bertindak berdasarkan nilai-nilai moral yang baik dan memberikan teladan dengan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan dan adil. Keputusan yang diambil oleh pemimpin di depan dapat menjadi cerminan dari nilai-nilai yang dipegangnya, yang kemudian akan diikuti oleh bawahannya.

Ing Madyo Mangun Karso  (Di tengah membangun semangat)
Seorang pemimpin yang berada di tengah-tengah harus dapat membangun semangat, memotivasi, dan mendorong orang-orang di sekitarnya. Pemimpin harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif dan penuh dukungan, di mana setiap orang merasa didorong untuk memberikan yang terbaik.

Dalam pengambilan keputusan: Pemimpin sebaiknya melibatkan tim atau orang lain dalam proses pengambilan keputusan, sehingga mereka merasa dihargai dan berkontribusi. Keputusan yang dihasilkan bersama akan lebih mudah diterima dan diimplementasikan karena ada partisipasi aktif dari semua pihak.

Tut Wuri Handayani  (Dari belakang memberi dorongan)
Prinsip ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin yang baik juga harus mampu memberikan dorongan dan kepercayaan kepada orang-orang di bawahnya untuk berkembang dan bertindak mandiri. Pemimpin mendorong kemandirian, inovasi, dan keberanian untuk bertindak, sambil tetap memberikan dukungan dari belakang ketika diperlukan.

Dalam pengambilan keputusan: Pemimpin harus bisa memberikan kepercayaan kepada tim atau individu untuk membuat keputusan sendiri, terutama dalam hal-hal yang terkait dengan tanggung jawab mereka dengan tetap memberikan dukungan dari belakang. Dengan memberikan kebebasan yang terkontrol, pemimpin membentuk individu yang lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Dengan menerapkan Pratap Triloka, pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang pemimpin akan lebih bijaksana, menciptakan rasa tanggung jawab bersama, serta membentuk lingkungan yang mendukung pertumbuhan individu. Dalam pendidikan, ini berarti bahwa pemimpin, baik guru maupun kepala sekolah, dapat memberdayakan murid dan guru melalui pengambilan keputusan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, kolaborasi, dan kemandirian.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?


Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, seperti kejujuran, keadilan, atau tanggung jawab, akan sangat mempengaruhi keputusan yang kita ambil. Ketika dihadapkan pada dilema etika, nilai-nilai tersebut menjadi dasar untuk menimbang mana pilihan yang paling tepat. Sebagai seorang guru, nilai-nilai ini akan mempengaruhi bagaimana kita memperlakukan murid, mengambil keputusan terkait disiplin, atau menetapkan strategi pembelajaran.


3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya

Materi pengambilan keputusan sangat erat kaitannya dengan kegiatan coaching dalam proses pembelajaran modul 3.1 ini tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Coaching adalah pendekatan yang bertujuan untuk memberikan dukungan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan mandiri dalam membuat keputusan yang tepat. Salah satu fokus utama coaching adalah membantu individu menyeimbangkan keputusan mereka dengan nilai-nilai pribadi dan organisasi. Coaching dapat memberikan ruang bagi individu untuk merefleksikan keputusan yang sudah diambil. Dalam sesi coaching, pengambilan keputusan yang sudah dilakukan dapat diuji efektivitasnya. Coaching membantu individu atau tim menilai apakah keputusan tersebut mencapai tujuan yang diinginkan. Jika tidak, coaching dapat mengarahkan pemimpin atau individu untuk memikirkan kembali alternatif solusi, mengevaluasi variabel yang mungkin terlewatkan, atau menyesuaikan pendekatan yang digunakan. Coaching juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan yang lebih baik di masa depan dan coaching tidak hanya berhenti pada pengambilan keputusan, tetapi juga mencakup pemantauan dan tindak lanjut dari keputusan tersebut.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya sangat penting dalam pengambilan keputusan, terutama saat menghadapi dilema etika. Guru yang mampu memahami dan mengelola emosi pribadi, berempati terhadap orang lain, serta mempertimbangkan dampak sosial dari keputusan mereka akan lebih mampu membuat pilihan yang etis, adil, dan bertanggung jawab. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan kondusif bagi semua pihak yang terlibat.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik memainkan peran penting dalam setiap diskusi terkait masalah moral atau etika. Nilai-nilai ini tidak hanya membantu pendidik dalam pengambilan keputusan, tetapi juga membentuk cara mereka berinteraksi dengan murid, rekan kerja, dan komunitas sekolah. Studi kasus yang berfokus pada dilema etika memberikan kesempatan bagi pendidik untuk merefleksikan nilai-nilai pribadi dan profesionalnya, serta bagaimana nilai-nilai tersebut menjadi panduan dalam menciptakan solusi yang etis, adil, dan sesuai dengan tanggung jawab mereka sebagai pendidik.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat menciptakan lingkungan sekolah yang positif, aman, dan kondusif. Keputusan yang dibuat dengan mempertimbangkan aspek emosional, sosial, dan kepentingan murid serta melibatkan semua pihak terkait akan membangun kepercayaan, keamanan, dan kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Dengan begitu, semua elemen sekolah bisa berkembang dalam suasana yang harmonis dan mendukung. Sebaliknya keputusan yang tidak mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan, aspek emosional, sosial dan kepentingan murid akan menjadi keputusan yang tidak tepat dan pada akhirnya akan menimbulkan konflik di lingkungan sekolah.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan utama yang sering muncul di sekolah adalah konflik nilai antara berbagai pihak yang terlibat, misalnya antara orang tua yang menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan kebijakan sekolah. Selain itu, terkadang ada tekanan eksternal dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan berbeda seringkali memperumit situasi, terutama ketika ada tekanan sosial atau politik. Tantangan selanjutnya adalah keterbatasan waktu karena dalam beberapa kasus yang mendesak, keputusan harus diambil cepat sehingga hal itu bisa membatasi analisis mendalam terhadap kasus tersebut.  Contoh tantangan yang terkait dengan perubahan paradigma di lingkungan sekolah yaitu ketika ada perubahan kurikulum K13 menjadi Kurikulum Merdeka, hal ini mempengaruhi cara guru memandang dan mengambil keputusan dalam melakukan pembelajaran, dimana tidak pelatihan tentang kurikulum merdeka di sekolah dan guru-guru masih belajar untuk beradaptasi mengimplementasikan kurikulum merdeka. Walaupun demikian, kurikulum merdeka harus tetap berjalan dan guru-guru belajar secara mandiri melalui berbagai media atau platform pembelajaran secara online agar bisa mengimplementasikan kurikulum yang baru tersebut.

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengambilan keputusan dalam pendidikan yang mempertimbangkan potensi, minat, dan kebutuhan murid akan berpengaruh dalam menciptakan pengajaran yang memerdekakan. Keputusan ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan pembelajaran berdasarkan gaya belajar dan kemampuan masing-masing murid, serta tetap memperhatikan kesejahteraan psikologis murid (well-being). Dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi dan mengintegrasikan pembelajaran sosial emosional (KSE), murid  dapat terpenuhi kebutuhan belajarnya dan bisa tumbuh dalam lingkungan yang mendukung kemandirian, kreativitas, dan rasa tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran, seperti guru atau kepala sekolah, memiliki peran penting dan tanggung jawab besar dalam pengambilan keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan dan masa depan murid-muridnya. Keputusan yang berkaitan dengan proses pembelajaran, nilai-nilai yang diajarkan, serta lingkungan belajar yang diciptakan memengaruhi perkembangan akademis, emosional, sosial, dan karakter murid. Keputusan-keputusan ini membentuk cara murid berinteraksi dengan dunia, mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan berdaya dalam kehidupan pribadi maupun dalam masyarakat.

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pada modul 3.1 ini saya belajar tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus dapat mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai situasi. Sesulit apapun keputusan yang harus diambil kita perlu mendasarkan keputusan kita pada 3 unsur yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari keputusan yang diambil. 

Dalam kasus dilema etika, agar mennghasilkan keputusan yang terbaik hendaknya proses pengambilan keputusan dilakukan dengan memperhatikan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan serta melalui 9 pengambilan dan pengujian keputusan.

Ada keterkaitan materi tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin pada modul 3.1 ini dengan modul-modul sebelumnya, antara lain:

  • Pengambilan keputusan harus berpihak pada kepentingan murid, hal ini sesuai dengan pembelajaran pada modul 1.1 tentang Filosofi Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu Pendidikan yang berpihak pada murid.
  • Diperlukan prinsip-prinsip dari nilai-nilai dan peran guru penggerak oleh seorang pemimpin pembelajaran dalam melaksanakan keputusan yang telah diambil, hal ini terkait dengan materi pada modul 1.2 tentang Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak.
  • Pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin pembelajaran hendaknya selaras dengan visi dan misi sekolah, hal ini terkait dengan modul 1.3 yaitu tentang Visi dan Misi Guru Penggerak.
  • Pengambilan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan kondusif di sekolah, hal ini terkait dengan modul 1.4 yaitu penerapan budaya positif.
  • Pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda dapat dilakukan melalui pembelajaran berdiferensiasi, hal ini terkait dengan modul 2.1 yaitu pembelajaran berdiferensiasi.
  • Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai hendaknya memperhatikan aspek sosial, emosional, empati dan etika. Hal ini sangat relevan dengan modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional.
  • Materi pengambilan keputusan sangat erat kaitannya dengan kegiatan coaching yang saya pelajari pada modul 2.3. Coaching adalah pendekatan yang bertujuan untuk memberikan dukungan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan mandiri dalam membuat keputusan yang tepat. 


11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Dilema etika terjadi jika dalam sebuah kasus terdapat pertentangan nilai antara benar lawan benar.

Bujukan moral jika dalam sebuah kasus terjadi pertentangan nilai antara yang benar lawan yang salah.

Dalam pengambilan suatu keputusan maka harus memperhatikan 4 paradgma, tiga prinsip dan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

4 Paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika:

  • Individu lawan kelompok (individual vs community)
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  • Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  • Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

3 Prinsip Pengambilan Keputusan

  • (Ends-Based Thinking, berpikir berbasis hasil akhir
  • (Rule-Based Thinking), berpikir berbasis peraturan
  • (Care-Based Thinking), berpikir berbasis rasa peduli/empati

9 Langkah pengambilan dan pengujian keputusan

1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4. Pengujian benar atau salah

  • Uji Legal
  • Uji Regulasi/Standar Profesional
  • Uji Intuisi
  • Uji Publikasi
  • Uji Panutan/Idola

5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

  • Individu lawan kelompok (individual vs community)
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  • Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  • Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

6. Melakukan Prinsip Resolusi

  • Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

7. Investigasi Opsi Trilema

8. Buat Keputusan

9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Pemahaman saya tentang tentang penerapan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan digunakan ketika menghadapi kasus dilema etika. Pada kasus bujukan moral maka kita harus memilih nilai yang benar ketika mengambil keputusan.

Hal-hal yang di luar dugaan yang saya dapatkan pada modul ini, yaitu:

Ketika kita menghadapi kasus dilema etika maka terkadang muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah. Hal inilah yang disebut opsi trilema.

Pada kasus bujukan moral terdapat pelanggran hukum dan kode etik maka pengujian tidak perlu dilanjutkan lagi. Maka keputusan diambil sesuai nilai yang benar.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema. Namun pada saat itu saya belum mengenal tentang 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga pada kasus dilema etika yang saya alami proses pengambilan keputusannya yang diambil dengan melakukan diskusi bersama rekan kerja dan kepala sekolah atau pihak yang terkait tanpa mengikuti langkah-langkah tersebut sepenuhnya.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak mempelajari konsep ini bagi saya sangat positif dan baik, karena saya sebagai individu sekaligus pemimpin pembelajaran bagi murid dan sekolah dalam setiap harinya akan selalu melakukan pengambilan keputusan. Dengan mempelajari konsep pengambilan keputusan sebagai pemimpin saya paham bahwa dasar pengambilan keputusan ada 3 unsur yaitu, berpihak pada murid, mengandung nilai-nilai kebajikan universal dan dapat dipertanggungjawabkan. Saya belajar perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral. Dalam bujukan moral keputusan lebih mudah diambil dimana sudah jelas bahwa nilai yang bertentangan adalah benar lawan salah. Dalam situasi berhadapan dengan bujukan moral, sebagai pemimpin pembelajaran tentunya harus tegas dalam mengambil keputusan memilih nilai yang benar. Sedangkan dalam dilema etika, dimana nilai yang bertentangan adalah benar lawan benar maka seorang pemimpin pembelajaran harus mampu membuat keputusan yang tepat agar dapat memberikan keseimbangan bagi pihak-pihak terkait yaitu win-win solution sehingga keputusan yang diambil akan berdmpak positif bagi lingkungan sekitar. Dalam hal dilema etika ini, seorang pemimpin pembelajaran harus menggunakan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik diantara nilai-nilai yang benar dan menjadi jalan tengah bagi pihak-pihak yang terkait.

Cara saya dalam mengambil keputusan sebelum mengikuti pembelajaran modul ini ketika mengalami dilema etika adalah berdiskusi dengan rekan kerja, kepala sekolah atau pihak-pihak terkait agar saya memiliki cara pandang yang lebih luas sehingga bisa meng hasilkan keputusan yang objektif dan adil. Namun setelah mengikuti pembelajaran pada modul ini, ada perubahan cara dalam mengambil keputusan terutama ketika harus mengambil keputusan yang sulit dalam dilema etika, saya sudah paham proses yang harus saya gunakan melalui 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Melalui proses tersebut sangat membantu saya untuk membuat keputusan yang terbaik dan lebih bijaksana dan berdampak positif di lingkungan sekolah, berpihak pada murid, mengandung nilai-nilai kebajikan dan dapat dipertanggungjawabkan.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Mempelajari topik modul ini sangat penting. Sebagai seorang individu dan pemimpin pembelajaran, dalam kehidupan sehari-hari akan selalu melakukan pengambilan keputusan. Keputusan yang kita ambil ini tentunya akan berdampak pada lingkungan sekitar kita. Diperlukan keputusan yang tepat dalam menghadapi berbagai masalah baik itu maslah yang sederhana maupun masalah yang kompleks. Jika keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat, maka akan menciptakan lingkungan yang positif, kondusif dan inklusif. Sebaliknya, jika keputusan yang diambil tidak tepat maka akan menimbulkan konflik dalam berbagai pihak yang pada akhirnya menimbulkan suasana yang tidak nyaman.

Saya sangat bersyukur dapat mempelajari materi tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai sebagai pemimpin. Materi ini adalah bekal bagi saya untuk dapat menjadi lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dalam situasi apapun, dimana keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang tepat, mengandung nilai-nilai kebajikan, berpihak pada murid dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga akan berdampak positif, aman dan nyaman bagi lingkungan sekitar.


Demikianlah koneksi antar materi pada modul 3.1. Kepada para pembaca, mohon saran dan umpan baliknya untuk kesempurnaan tulisan saya di masa akan datang.


"Jangan takut mengambil keputusan, kamu akan tetap mendapatkan manfaatnya, antara menjadi pemenang atau menjadi lebih bijak"


"SALAM DAN BAHAGIA"


PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID OLEH: FARIDAH HASANAH RAHAYU CGP ANGKATAN 11 KOTA PROBO...